Indonesia mencatat momen bersejarah dalam penguatan kemampuan pertahanan maritimnya. Pemerintah Republik Indonesia sedang dalam proses menerima hibah kapal induk bekas milik Italia, Giuseppe Garibaldi, yang akan menjadi aset strategis Angkatan Laut Indonesia (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut / TNI AL). Kapal induk raksasa ini direncanakan difokuskan untuk mendukung operasi militer selain perang (OMSP), terutama penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan di seluruh wilayah perairan nusantara.
Status Giuseppe Garibaldi saat ini masih dalam proses pengiriman dari Italia ke Indonesia melalui skema hibah antar pemerintah (Government to Government / G to G). Menurut pernyataan resmi Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, pemerintah Indonesia tengah menyiapkan tahapan pemeliharaan, perbaikan, dan retrofit untuk memastikan kapal tersebut siap beroperasi dengan kebutuhan nasional.
Giuseppe Garibaldi adalah kapal induk yang memiliki sejarah panjang dalam armada laut Italia. Kapal ini dirancang dan dibangun di galangan kapal Italia pada awal 1980-an serta mulai beroperasi pada akhir dekade tersebut. Beberapa spesifikasi utamanya meliputi:
-
Panjang kapal: ±180,2 meter
-
Displacement/pengkalan berat: ±13.800 ton saat penuh muatan
-
Kecepatan maksimum: sekitar 30 knot (±56 km/jam)
-
Fasilitas penerbangan: dek penerbangan luas dengan helideck yang mampu menampung enam helikopter atau lebih
Rekor sejarah menunjukkan kapal ini sempat menjadi tulang punggung angkatan laut Italia dan dilengkapi kemampuan untuk mendukung operasi penerbangan pesawat VTOL (vertical/short take-off and landing) serta helikopter, meskipun kini difokuskan untuk platform operasi kemanusiaan dan OMSP di Indonesia.
Meski berstatus hibah, Giuseppe Garibaldi tetap memerlukan persiapan teknis sebelum resmi dioperasikan oleh TNI AL. Upaya retrofit dilakukan agar kapal ini dapat menyesuaikan dengan kebutuhan operasi di perairan Indonesia, termasuk penguatan fasilitas untuk helikopter, dukungan logistik, serta sistem komunikasi modern yang mendukung operasi bantuan bencana.
Brigjen Rico menegaskan bahwa tujuan pemanfaatan kapal induk ini murni untuk operasi kemanusiaan, bukan untuk aksi agresif atau konflik bersenjata. Dengan kemampuan helideck yang memadai, kapal ini diharapkan mempercepat distribusi bantuan logistik dan personel saat terjadi bencana alam di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di daerah terpencil.
Untuk mendukung keberhasilan operasional kapal induk, TNI AL kini memulai persiapan personel secara bertahap. Sekitar 500 pelaut diproyeksikan akan dilatih dan disiapkan sebagai awak kapal induk Giuseppe Garibaldi. Personel ini akan dilatih memiliki kompetensi khusus sesuai standar operasi kapal induk modern, termasuk navigasi, manajemen penerbangan udara, dan dukungan teknis lainnya.
Tantangan dan Peluang
Pengadaan kapal induk melalui skema hibah membawa tantangan tersendiri, terutama dari sisi pemeliharaan dan retrofit. Meski tidak memerlukan biaya pembelian, Indonesia tetap harus mengalokasikan anggaran untuk perbaikan teknis serta adaptasi sistem agar sesuai standar operasional nasional.
Namun di balik tantangan tersebut, kesempatan memiliki kapal induk membuka peluang besar bagi TNI AL dalam memperluas kemampuan penanggulangan bencana, respons kemanusiaan, serta proyeksi kehadiran di perairan Nusantara yang luas. Ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat kerja sama strategis dengan Italia demi menjaga stabilitas maritim regional.
Dengan langkah baru ini, Indonesia memasuki babak penting dalam sejarah alutsista lautnya, memadukan kekuatan diplomasi, kemampuan teknis, dan strategi kemanusiaan di tengah dinamika global abad ke-21.









Recent Comments