Perang Melawan Iran Kuras Kantong AS, Biaya Operasi Militer Tembus Rp500 Triliun

Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memunculkan dampak besar, tidak hanya dari sisi keamanan dan geopolitik, tetapi juga terhadap keuangan Washington. Sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026, biaya yang harus ditanggung pemerintah AS telah mencapai puluhan miliar dolar dan diperkirakan masih akan terus membengkak.

Data terbaru Pentagon menunjukkan biaya perang AS terhadap Iran telah mencapai sekitar US$29 miliar atau setara lebih dari Rp500 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di level US$25 miliar pada akhir April lalu. Kenaikan biaya terutama berasal dari kebutuhan amunisi, perbaikan dan penggantian peralatan militer, serta biaya operasional pasukan yang terus bertugas di kawasan konflik.

Besarnya biaya perang menjadi sorotan dalam berbagai sidang di Kongres AS. Sejumlah anggota parlemen mempertanyakan transparansi Pentagon dalam menghitung pengeluaran perang yang terus meningkat. Di tengah tekanan ekonomi domestik dan tingginya biaya hidup masyarakat Amerika, pengeluaran militer dalam jumlah besar memicu perdebatan politik yang semakin tajam.

Jika ditelusuri sejak awal konflik, laju pengeluaran militer AS terbilang sangat cepat. Dalam enam hari pertama operasi militer terhadap Iran, pemerintahan AS dilaporkan telah menghabiskan sedikitnya US$11,3 miliar. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk amunisi, pengerahan armada, operasi udara, serta dukungan logistik bagi pasukan yang terlibat dalam pertempuran.

Tidak berhenti di situ, Pentagon kini disebut membutuhkan tambahan dana hingga US$80 miliar untuk menutup berbagai kebutuhan perang dan biaya terkait lainnya. Permintaan tersebut disampaikan kepada para anggota Kongres dan berpotensi menjadi salah satu paket anggaran tambahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah lembaga pemantau bahkan memperkirakan total biaya perang dapat melampaui US$100 miliar apabila konflik berlangsung lebih lama. Perhitungan itu tidak hanya mencakup biaya operasi militer langsung, tetapi juga dampak tidak langsung seperti perawatan veteran, penggantian persenjataan, kenaikan harga energi, hingga beban bunga utang pemerintah akibat peningkatan belanja negara.

Konflik tersebut juga memberikan tekanan terhadap perekonomian global. Ketegangan di Timur Tengah sempat memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi. Kondisi ini ikut memperbesar beban ekonomi yang harus ditanggung Washington di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.

Bagi pemerintahan Presiden Donald Trump, perang Iran kini tidak hanya menjadi persoalan militer, tetapi juga tantangan fiskal dan politik. Dengan biaya yang terus bertambah dan kebutuhan pendanaan baru yang mencapai puluhan miliar dolar, Kongres diperkirakan akan menghadapi perdebatan panjang mengenai sejauh mana AS mampu mempertahankan operasi militer tersebut tanpa memperburuk kondisi anggaran negara.

Share